Selasa, 23 Juli 2013

Dalil Shahih Shalat Tarawih

31-Kitab Shalat Tarawih

2013. Ismail menyampaikan kepada kami dari Malik, dari Sa'id al-Maqburi, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dia bertanya kepada Aisyah, “Bagaimana Rasulullah SAW shalat pada bulan Ramadhan?” Dia menjawab, “Beliau tidak pernah shalat lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan lainnya. Beliau shalat empat rakaat, jangan kau tanya bagaimana kesempurnaan dan panjangnya shalat beliau. Kemudian beliau shalat empat rakaat lagi, jangan kau tanya bagaimana kesempurnaan dan panjangnya shalat beliau. Setelah itu, beliau shalat tiga rakaat. Lalu aku bertanya, 'Wahai Rasulullah! Apakah engkau tidur sebelum shalat Witir?' Beliau menjawab, 'Wahai Aisyah! Kedua mataku tidur, akan tetapi hatiku tidak tidur.'”

Pesan:

Saya pikir hadits di atas sudah jelas dan tidak perlu diperdebatkan. Jangan kawatir salah atau merasa disalahkan. Kita punya Tuhan yang maha baik. Jika kita melakukan sesuatu yang keliru akibat mengikuti petunjuk yang keliru, maka Tuhan yang maha baik akan memaklumi kita. Ingat Allah, Tuhan yang maha baik, Dia sayang pada kita yang percaya penuh kepadaNya. So, jangan mempersulit diri sendiri dengan harus mengikuti suatu aliran tertentu. Apa yang diyakini, maka yakini itu, tidak usah mencaci, meremehkan, mengejek, merendahkan, dan sejenisnya terhadap orang atau kelompok yang berbeda pendapat. Biarlah Tuhan yang maha baik mengatur jalannya kehidupan.

Akhir kata, Islam adalah agama yang mudah. Islam adalah agama yang sempurna yang tidak perlu dibuat-buat, ditambah-tambah, dikurang-kurang, atau perkara sejenis yang menyebabkan Islam terlihat tidak sempurna. Nikmati Islam sesuai tuntunan nabi, beres. Tidak perlu berdebat karena kita akan terlihat bodoh dan konyol. Jika ingin lebih tahu tentang perkara ibadah, maka sebaiknya beli ensiklopedia hadits yang terpercaya. Baca sendiri melek-melek. Kalau tidak paham baru bertanya kepada yang paham. Jangan langsung bertanya di Google atau forum yang bersifat provokatif atau tidak objektif, kemudian menelan mentah-mentah apa dikatakan orang lain. Oke, silahkan diambil hikmahnya. Wassalam akademisi.

Sumber:

Ensiklopedia Hadits: SHAHIH AL BUKHARI JILID I (Diterbitkan oleh Almahira)