Senin, 28 Januari 2013

Pemindahan Ibukota Negara ke Palangkaraya (Isu Pasca Banjir di Ibukota Jakarta Januari 2013)

Jari-jari saya menjadi gatal ketika membaca timelinedi Twitter yang membicarakan tentang pemindahan ibukota negara. Lebih-lebih ternyata ibukota tersebut akan dipindah ke tempat tinggal saya, Palangkaraya. Meskipun hanya sekedar isu, tapi kemungkinan besar hal tersebut akan benar-benar terjadi sebab Indonesia sudah pernah melakukan hal serupa sebelumnya. Singkat saja, saya ingin memberikan komentar pribadi mengenai hal ini. Saya berharap Anda berkenan untuk melanjutkan membaca posting ini.

Kota Cantik Palangkaraya - skyscrapercity.com

Pasca banjir bandang yang menimpa Jakarta Raya beberapa waktu yang lalu, muncul isu tentang pemindahan ibukota negara ke kota lain. Hal ini disebabkan karena Jakarta sudah terlalu sesak, kumuh, macet, tua, dan terlalu sibuk untuk segala hal. Isu ini sebenarnya sudah lama “dimakan rayap”. Sejak pemerintahan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, ibukota negara memang direncanakan di Palangka Raya (Palangkaraya), Kalimantan Tengah. Namun, isu tersebut hanya bergentayangan di telinga masyarakat Palangkaraya hingga sekarang, 2013.

Ada dua kelompok yang tidak lain kelompok yang pro dan kelompok yang kontra jika ibukota negara dipindah ke Palangkaraya. Kelompok yang pro berpendapat bahwa Palangkaraya akan lebih maju jika dijadikan ibukota. Sebaliknya, kelompok yang kontra berpendapat bahwa Palangkaraya akan menjadi layaknya Jakarta saat ini jika dijadikan ibukota. Pada dasarnya, kedua pendapat tersebut bersifat relatif. Tanpa menjadi ibukota, Palangkaraya akan tetap maju jika dikelola dengan baik. Di lain hal, sekalipun ibukota negara dipindah ke Palangkaraya, tidak mungkin warga ibukota Jakarta Raya serta-merta pula ikut berpindah tempat ke Palangkaraya (mentang-mentang ibukota pindah, warga ikut pindah juga). Jadi, pendapat bahwa Palangkaraya akan macet seperti Jakarta jika menjadi ibukota menurut saya kurang rasional.

Banjir di Jakarta (Januari 2013) - sumber gambar.


Ada beberapa hal yang layak dipertimbangkan dari Palangkaraya. Pertama, Palangkaraya memiliki desain kota yang masih bisa diolah dan ditata dengan baik. Kedua, Palangkaraya memiliki area yang cukup luas dibanding Jakarta. Dengan demikian, gedung-gedung tinggi tidak terlalu dibutuhkan. Ketiga, populasi penduduk yang sedikit. Jadi, kemungkinan macet relatif kecil kecuali penduduk Jakarta bermigrasi secara besar-besaran ke Palangkaraya. Waduh! Kenapa tidak dari dulu saja pindahnya? Kok nunggu Palangkaraya jadi ibukota baru pindah ke Palangkaraya.

Fenomena macet di Jakarta terjadi karena kesalahan awal dalam membuat regulasi. Karena tidak adanya larangan untuk memiliki kendaraan pribadi lebih dari satu, penduduk Jakarta berlomba-lomba membeli kendaraan pribadi (hal ini berkaitan dengan gaya hidup mewah orang Indonesia). Alhasil, jadilah macet seperti yang terjadi saat ini yang tidak akan pernah dapat diatasi. Ya, saya pastikan kemacetan di Jakarta adalah abadi, kecuali penduduk Jakarta mau membuang kendaraan yang dimilikinya dan mau berjalan kaki saja ke tempat tujuan.

Kembali ke topik. Sebenarnya, yang dipindahkan ke Palangkaraya hanyalah “merk” ibukota negara yang lebih tepatnya ibukota pemerintahan. Dengan demikian, segala kegiatan administrasi kenegaraan akan dipindah ke Palangkaraya (gedung-gedung gak ikut dipindah kali... ). Lebih lanjut, Jakarta tetap menjadi ibukota negara yang berfokus pada kegiatan perekonomian. Jadi, Indonesia akan memiliki dua ibukota negara: ibukota negara di Jakarta dan ibukota pemerintahan/administratif di Palangkaraya.

- Negara lain: Lho kok bisa dua?
- Indonesia: Emang kenapa? Masalah buat loe? Suka-suka gue donk, mau dua, tiga, seratus, wong negara gue kok, masa negara lain ngatur-ngatur.
- Negara lain: Keren ya… Lain dari yang lain.
- Indonesia: Ya iyalah… Indonesia gitu loch!!!

Kota Cantik Palangkaraya - skyscrapercity.com

Kesimpulannya, sebagai warga Palangkaraya yang baik, saya menyambut baik jika ibukota pemerintahan dipindah ke Palangkaraya. Kalaupun bukan Palangkaraya sebagai ibukota pemerintahan yang baru, apapun kotanya, minumnya “Teh Botol Sosro”. Eh sorry dorry strawberry, maksud saya “Saya akan tetap dukung demi perubahan bangsa tercinta ini.”