Senin, 06 Maret 2017

Ini sebabnya Alfamart dan Indomaret sering dicerca

Perubahan Harga

Harga barang di Alfamart dan Indomaret selalu berubah tiap hari. Hal itu akan menyulitkan konsumen untuk membuat anggaran bulanan karena perubahan harga yang terjadi begitu cepat seperti mengikuti kurs mata uang. Selain menyulitkan konsumen, hal itu juga menjadi masalah bagi karyawan. Ada banyak kasus karyawan Alfamart dan Indomaret dituduh sebagai penipu hanya gara-gara harga di pricetag dan komputer berbeda. Hal itu dimanfaatkan oleh orang-orang sensasional untuk mencari perhatian di media sosial. Padahal, bukan karyawan yang di toko yang mengubah atau membuat harga. Kadangkala karyawan yang di toko lalai mengganti pricetag karena mereka dituntut banyak hal dari manajemen, mereka juga punya titik lelah. Selain itu, perbedaan harga antara pricetag dan komputer sering terjadi karena kesalahan program komputer: gangguan saat transfer data, peralatan komputer yang rusak, dll. Tugas-tugas yang tidak terspesialisasi juga menjadi penyebab kelalaian. Beberapa tugas dikerjakan oleh orang yang sama, mulai dari menyapu, menyiapkan barang, menata barang, sampai mencetak pricetag.

Nominal harga yang "nyeleneh"

Kita semua tahu kalau harga barang di sana ganjil-ganjil. Umumnya nominal harga yang berlaku di pasaran adalah kelipatan 500. Di kedua minimarket ini kita akan menemukan nominal harga yang bikin geleng-geleng kepala. Contoh nominal harga yang sering ditemukan: Rp1.725, Rp6.650, dan Rp7.333. Apakah saat ini koin 25 dan 50 mudah ditemukan? Atau apakah ada uang pecahan 1 rupiah? Kasir pun akan kesulitan saat memberikan uang kembalian, lalu ujung-ujungnya menawarkan kembaliannya untuk didonasikan. Bagaimana jika konsumen menolak untuk mendonasikan kembaliannya? Umumnya yang jadi korban adalah si kasir. Kasir mau tidak mau membulatkan uang kembalian konsumen, misalnya kembalian Rp450 dikembalikan Rp500 atau hanya Rp400. Sementara perusahaannya memintanya mengganti uang pembulatan tersebut di belakang layar. Untuk menghindari hal itu, sebagian kasir ada yang sampai merengek-rengek agar kembaliannya didonasikan saja. Bagi konsumen yang paranoid, hal itu akan membuatnya risih. Beberapa orang menyangka bahwa uang yang didonasikan itu adalah untuk si kasir dan karyawan lainnya, bahkan hal itu dituduh sebagai modus penipuan.

Program promosi yang membingungkan

Kedua minimarket itu sering menawarkan hal-hal yang multitafsir. Hal yang sering terjadi adalah kesalahan cetak di media promosi mereka. Ada juga program promosi yang tidak tercetak, misalnya belanja Rp100.000 dapat air mineral. Saat konsumen belanja Rp100.000, air mineral akan muncul di struk sebagai bonus. Kadang kasir lalai membaca informasi di layar komputer saat sedang ramai pengunjung, sehingga air mineral tidak diberikan ke konsumen. Hasilnya, si kasir lagi-lagi dituduh menipu karena telah menambahkan item barang di struk belanja tanpa sepengetahuan konsumen.

Kantong plastik berbayar

Kedua minimarket ini mendukung program pemerintah yaitu plastik berbayar. Kebanyakan konsumen masih belum tahu dengan program ini sehingga yang selalu jadi korban amarah konsumen adalah kasir. Meskipun tidak semua daerah mendukung program itu, beberapa daerah seperti Jakarta dan Banjarmasin benar-benar menjalankan program itu. Program plastik berbayar dianggap kontroversial karena tidak efektif, sebab banyak kemasan produk yang dijual masih dibuat dari plastik yang tidak ramah lingkungan.

Karyawan yang masih labil

Harus diakui bahwa kebanyakan karyawan di kedua minimarket itu masih unyu-unyu, bahkan banyak yang baru lulus SMA langsung direkrut. Kebanyakan dari karyawannya belum memiliki pengalaman bekerja. Pada usia yang masih brondong tentu saja mereka masih perlu banyak hiburan, termasuk masalah asmara. Tak heran jika mereka tidak fokus saat bekerja, sehingga kadang dilabeli tidak profesional. Sedihnya, mereka sering tidak dihargai oleh konsumen. Mereka sering dicaci maki karena hal-hal yang sebenarnya sepele.

Gerainya terlalu banyak dan saling berdekatan

Ada yang menyangka Alfamart dan Indomaret berasal dari perusahaan yang sama, padahal kedua minimarket itu "kembar tapi beda". Dua minimarket ini memiliki gerai yang saling berdekatan, seperti adik-kakak. Tampaknya mereka berdua bersaing dalam hal jumlah gerai, sampai-sampai tidak peduli buka di pasar rakyat hingga dekat pemakaman. Saking banyaknya gerai kedua minimarket itu, beberapa pedagang tradisional takut usaha mereka bakal gulung tikar.