Senin, 15 April 2013

Filosofi Sifat Babi dan Monyet

Dikutip dari tulisan Abdillah pada koran harian Kalteng Pos edisi Senin, 15 April 2013


"Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja."
--Buya Hamka

Ungkapan Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA ini mengandung makna yang begitu luas dan dalam. Beliau adalah ulama besar, sastrawan sekaligus negarawan.

Filosofi yang diungkapkan oleh Hamka bisa ditafsirkan bermacam-macam, tergantung kita memaknainya. Saat ini banyak orang yang ingin kaya raya dengan menghalalkan berbagai cara. Apapun dilakukannya asal bisa mendapatkan uang banyak. Di instansi pemerintah misalnya, banyak yang ingin cepat naik pangkat dan menduduki jabatan basah, tapi tidak dibarengi dengan kinerja yang bagus. Malah sebaliknya tiba-tiba seseorang diangkat sebagai kepala dinas. Ini bukan karena prestasi, namun karena kedekatan dengan seorang kepala daerah atau menjilat pantat bosnya.

Pejabat seperti ini dapat diistilahkan suka nyeruduk. Ia tidak perduli dengan apa yang terjadi nantinya. Yang penting sudah mengantongi surat keputusan (SK) pengangkatan. Langkah selanjutnya bagaimana bermain cantik dalam setiap proyek untuk mendapatkan pemasukan sebanyak-banyaknya. Langkah berikutnya bagaimana jabatan yang digenggam saat ini tidak cepat lepas. Ajian pamungkasnya setoran ke atasan harus lancar dan aman. Kalaupun ada mutasi, minimal mendapat kedudukan yang tidak terlalu kering anggarannya.

Betapa bangganya aku menjadi gubernur, bupati, walikota, [atau] legislatif. Menjadi pejabat berarti menjadi orang terkenal. Orang terkenal dipercaya mampu melakukan apa saja, melampaui wilayah-wilayah kompetensi. Golf ya bisa, karaoke mantap, bersandiwara ya jago, jadi anggota DPR ya hebat. Terkenal itu lebih hebat dibanding berilmu, dibanding profesional, dan dibanding apapun saja. Menjadi pejabat lebih dipilih orang untuk dijadikan apa saja dibanding orang terampil maupun cakap.

Bisa dibuktikan orang terkenal akan memperoleh suara lebih banyak dibanding mereka yang tidak dikenal. Menjelang pemilihan legislatif 2014, baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun tingkat nasional ada ribuan orang berebut menjadi wakil rakyat. Yang penting saat ini mendaftar dulu, apakah nantinya terpilih atau tidak itu urusan belakang.

Para calon legislatif (caleg) berlomba-lomba untuk bisa dikenal masyarakat secara luas. Itu yang mereka lakukan untuk mendapatkan dukungan yang signifikan, agar bisa melenggang di gedung DPR. Semoga tahun depan muncul tokoh-tokoh baru yang sama sekali tidak diduga oleh siapapun dan hampir tidak mungkin diperhitungkan oleh ilmu politik, bahkan para ahli hi[s]ab zaman, para pakar kebatinan, dan tak satupun bisa mengungkapkan indikasi bahwa para pemimpin dan yang mau menjadi wakil rakyat mampu memperjuangkan masyaraka[t]. Semoga para pemimpin kita yang baru atau yang mau memimpin bisa memaknai sifat-sifat babi dan monyet.